Binaiya : Puncak Para Raja

Pernah melihat Indonesia bagian Timur?

Saya akan bercerita sebagian kecil dari Timur dari salah satu ketinggian puncak gunung di timur Indonesia yaitu Puncak Nusa Ina – Binaiya. Saya tidak bisa bercerita tentang koordinat gunung ini ada di mana, secara geografis gunung ini melintang atau membujur, saya tidak mahir dalam hal itu. Tapi yang ingin saya bagikan adalah pengalaman saya di peluk, di gandeng, di bisiki, di hangatkan oleh cinta kasih peraduan alam, kultur, dan sedikit sopi..

Pengalaman saya di timur adalah berkat jiwa kepo saya akan status orang di facebook, lalu menelusuri permasalahan mengapa status itu bisa ada di beranda saya, cek sumbernya beserta kontra indikasi permasalahannya dan Voila… ketemulah biang keroknya.

 

Alief Hitapayo

Beliau ini malang melintang di kancah pendakian Binaiya dan hampir 7 Summit Indonesia,biar buncit agak pendek tapi gesit, setelah saya selidiki rata-rata pemain Timnas sepak bola bola dari Ambon  itu juga kriteria dan perawakannya mirip-mirip…kecuali buncitnya skip. 2 tahun sudah kita menjalin facebookan, dan belum terpikirkan untuk tertarik menjelajah ke bumi para raja. Alasan mengapa saya segan :

– Saya gak hapal budaya Ambon dan sekitarnya, walau di Gereja ada banyak sodara dari kota-kota di Ambon , saya berpikir pasti beda, asli Ambon dengan Ambon di Jakarta.

– Saya pernah berurusan dengan gagal bayar kartu kredit, dan serius yang datang mengingatkan untuk bayar itu  sodara Ambon yang galaknya antara mata dan kulit samar hitam semua.

-Konflik sodara di Ambon, masih kepikiran di hati kecil saya

Setelah lama saya rasa patut juga harus menjelajah, book tiket, pinjam alat dan perlengkapan sana – sini, cek perlengkapan pribadi ada di mana, ternyata dari ujung barat sampai Timur Pulau jawa berserakan barang-barang itu di pinjam, repotnya itu punya adik-adik banyak.

Langkah pertama yang harus saya lakukan ketika punya keinginan untuk bepergian melintasi pulau antar propinsi di Indonesia adalah banyak berdoa. Jadi lebih religius, bepergian dengan pesawat terbang tidak nyaman buat saya.

Oscar, Prihatin dan support dari Jakarta melepas kepergian saya dari Tanjung Barat. Saat itu jam 11 malam menuju Bandara soekarno Hatta dengan kedaraan berbasis onlen. Untuk mendapatkan tiket pesawat, gunakan lah booking onlen dan jangan lupa cek promo- promo nya sangat membantu meringankan, sedikit bersabar dan menunggu kesempatan pasti dapat tiket termurah, walau penerbangan ke Timur Indonesia tidaklah murah. Semua sudah terlibat dalam persekutuan onlen, apa saja bisa di onlenkan.

Penerbangan dari Jakarta menuju Ambon memakan waktu terbang 3 jam 20 menit. Perbedaan waktu Indonesia bagian barat dan Timur adalah 2 jam dan kerennya penerbangan larut malam yang saya pilih, saya bisa merasakan sunrise kota Ambon lebih awal di penerbangan, bersit-bersit cahaya keemasan menampar saya dari kaca jendela pesawat.

Ini adalah hal yang wajar buat saya yang hobi sekali mengejar matahari pagi di puncak-puncak tertinggi di Indonesia. Dalam benak pikiran saya ketika menikmatinya adalah teman-teman yang masih tidur dan belum bisa manyapa indah pagi yang setia hadir dalam hidup kita dan lupa mengucapkan selamat istirahat kepada matahari ketika tenggelam juga karena masih sibuk dengan lemburan yang mungkin kompensasinya seharga diaper anak.

Ini lah hidup yah, semangat yah kamu!

Fahmi

Tiba di Bandara Pattimura, waktu menunjukan pukul 07.20 WIT, sinar matahari itu lembut sekali di sana, walau panasnya membuat udara sedikit lembab, tapi serasa di ruang sauna, panas yang hangat. gak percaya? ke Ambon dong. Begitu memasuki gedung bandara, getaran henpon saya mengingatkan bahwa saya mengajak teman untuk ekpedisi Binaiya ini.

Fahmi, pengantin baru ini misterius tapi baeknya nulungin.  Sepertinya tersisa puncak cartenz Papua aja deh yang belom di jelajahin begitu selesai turun Binaiya ini …horaaaangkaya!

Shelter expeditions

Ini iklan yah : shelter expeditions adalah adventure managemen lokal ambon yang mumpuni, memberikan pelayanan selama dan purna pendakian yang baik. Dengan krew professional di bawah naungan Taman Nasional bersertifikat dan berhasrat menikah segera… Loh?

Alief teman saya ini rupanya mengarahkan kita untuk bareng di bawah naungan ini. Tapi karena tim ini akan membawa grup lain yang bareng kita, jadi perjalanan kita harus menunggu tim tersebut di Amahai. Tapi dari sini saya akan mulai berhitung hari-hari pendakian saya.

Day 1

Pelabuhan Tulehu – Pelabuhan Amahai – Kantor balai taman nasional Manusela – Perjalanan menuju Desa Piliana

Begitu tiba di Ambon kita sewa angkot untuk di antar ke Pelabuhan Tulehu, kita harus menjemput salah satu anggota tim kita disini. Untuk melanjutkan perjalanan  menuju Desa Masohi dengan kapal penumpang cepat. Serius ini kapal penumpang bagus gaes, beda sama yang nyebrang ke pulau seribu. Ber AC, dan saya baru sadar rupanya kita menyebrangi Teluk untuk mencapai seberang yaitu desa Masohi dan 2 jam perjalanan dengan tiket Rp 115.000/penumpang. Operasional nya hanya 2 x PP dalam sehari di hari kerja dan sekali PP di hari libur. Kapal ini di operasikan untuk menjembatani kebutuhan pulau-pulau akan kebutuhan pokok dan yang non pokok juga. Teluk ini tenang, perjalanan pun serasa datar-datar saja tanpa kendala. Sesampai nya di Pelabuan Amahai – Sesa Masohi ,hari itu tanggal 26 Desember, perayaan Natal masih terasa di sepanjang perjalanan.

Di Masohi kita bermalam menunggu tim lain yang akan bareng kita, di rumah kerabat salah satu anggota tim. Saya harus beramah tamah dengan pegurus taman Nasional, yah karena kita mendaki bertepatan dengan perayaan Natal, kue-kue, minuman soda-soda masih berasa Natal. Ditingkahi minuman beragi yang mungkin kalau di minum berlebihan, akan menjadi ajang curhat yang tidak ada akhirnya. Dari awalnya hanya melengkapi kebutuhan SIMAKSI, berputar-putar ke permasalahan-permasalahan yang terjadi di taman nasional, keluarga dan hal-hal yang  mungkin jarang bisa dibicarakan pun bisa saja terlontar dan di tertawakan. Minuman lokal ini di sebut Sopi.

Sekilas tentang sopi, di daerah lain juga ada jenis minuman ini dengan nama yang berbeda, yah Tuak mungkin yah bahasa familiarnya.

Day 2

Masohi – Desa Piliana

Menjelang siang kita menyusun tim pemberangkatan, lalu berjalan-jalan ke pasar sekitar, mengamati kehidupan pasar dan menyaksikan apa yang penting untuk diingat dan apa yang harus di lupakan, mantan adalah yang jelas harus di lupakan di saat seperti ini gaes!  Di Masohi tidak ada Bakso, dan orang sini menyebut kecambah dengan kacang tumbuh.

Bung William

Beliau adalah pemuda yang bekerja secara khusus mengelola dan mensejajarkan kepentingan dengan kebutuhan di taman nasional. Jangan coba-coba menghindar dari peraturan Taman Nasional ketika hendak mendaki Binaiya. Beliau tegas dan berwibawa walau menurut curhatnnya dia saja hampir menangis atau nangis yah? saat pendakian pertamanya ke Binaiya. Ketika mendaki Binaiya, yang jelas beliau lah yang mengeluarkan ijin simaksi kita, kalau urus ijin mendaki ketemu dia lah dan titip salam yah!

Setelah keperluan logistik di rasa cukup, Simaksi beres, perjalanan kita di lanjutkan menuju Desa Piliana, desa sebagai pintu gerbang kaki Binaiya lintas selatan, jalur ini termasuk yang ter mudah  dari banyak jalur yang ada. Perjalanan kita menuju Piliana itu melewati banyak desa, Gereja, Masjid, Pura berjejer-jejer bertetangga.

Ambon Anthem

Salah satu budaya populer adalah musik, orang muda di Ambon senang musik dengan beat yang dinamis yang bisa membuat kepala manggut-manggut (jadi inget kucing-kucing an di toko elektronik glodok). Ada beberapa judul lagu yang diputar membuat saya berkernyit dagu satu judul “mama minta hape” . Semoga lagu tersebut hanyalah kreatifitas semata dan tidak pernah terjadi dialam nyata. “Nona Kairatu” lirik populer, mudah di mengerti dan menghibur..yang ada di benak saya glen fredly adalah acuan lagu-lagu di Ambon ternyata saya salah.

Berikut ini saya ringkas biaya transportasi dan persyaratan menuju gunung Binaiya :

Bandara Pattimura – Pelabuhan Tulehu: naik Angkot. Per orang : Rp 15.000.

Pelabuhan Tulehu – Pelabuhan Amahai: Kapal Cepat. Per orang : Rp 115.000.

Pelabuhan Amahai – Kota Masohi – Desa Tehoru – Desa Piliana (PP)  Mobil sewa (avanza). seharga Rp 1.500.000/mobil

Simaksi Binaiya: Rp 25.000

Belum termasuk logistik

Tiba di Piliana kami menyaksikan desa yang  dipimpin oleh bapak raja, yang dipilih penduduk sebagai pengganti Lurah mungkin yah. Kami disambut dengan menyenangkan, dengan ubi yang di goreng seperti keripik dan teh manis. Malam hari nya kita harus berhadapan dengan bapak adat, bapak adat ini lah yang harus merestui perjalanan kita, tanpa restu nya yang disertai upacara makan sirih pinang, kita di anggap melanggar adat dan itu gak cool.

Cek logistik berdasarkan hari pendakian dan perlengkapan semua di rasa lengkap, istirahat dan bersiap untuk mendaki di esok hari.

Day 3

Ayemoto

Kumandang kidung rohani mengalun, jejak-jejak matahari meninggalkan garis-garis kehidupan yang lebih jelas. 08.00 WIT perjalanan kita di mulai. Menyenangkan melihat susuran hutan yang masih rapat, duri sagu menggores telapak tangan saya karena salah pegangan. Begitu juga cinta kadang menjadi luka jika salah gandeng.

gunung binaiya

Perjalanan menuju shelter pertama menembus rimbunnya pohon, jalan yang berlumpur dan menyusuri sungai Titimula yang jernih dan kebetulan tidak ber-arus, perjalanan masih terbilang rata menuju mendaki, menyebrangi batang pohon besar untuk mendaki lagi. Kita beristirahat di sebuah shelter (yamhitala) yang mulai rusak, membuka snack lalu melanjutkan perjalanan,  tibalah kita di shelter ayemoto sekitar pukul 17.30 WIT, kita camp di sini. Ada aliran sungai untuk  kebutuhan kita. Shelter berupa pondokan permanen yang di bangun oleh komunitas lokal Highcamp dengan pengurus balai hutan raya ini . Keren yah mereka?, di beberapa gunung di jawa saya hanya melihat manfaatnya saja tapi tidak pengelolaannya. Di sini mereka tahu alam memberi bukan untuk di habiskan, mereka percaya keping yang Tuhan berikan bukan untuk di simpan saja atau di habiskan, tapi biar bermanfaat lebih luas harus di kembangkan dan keping ini bisa bertambah menjadi lempengan yang manfaat nya lebih besar untuk semua.

Day 4

Isilali

Sarapan dan packing lagi bersiap untuk pendakian selanjutnya,karena pendakian kita adalah jalur selatan – selatan, yang artinya di saat turun kita akan melewati dan camp kembali di shelter Ayemoto ini, jadi barang-barang yang akan di gunakan di pendakian di jalur pulang bisa di tinggal di shelter ini. semua teman-teman sibuk untuk mencari spot menyimpan baju basah, logistik,  keperluan yang sudah tidak dipakai tidak dengan saya. Saya hanya cukup menjemur baju dan celana basah saya (dan saya menyesal kemudian..semoga bermanfaat buat yang memerlukan deh). Kita harus membawa extra air menuju camp selanjutnya, karena tidak melewati jalur air.  OMG, perjalanan yang ini membuat pundak saya sakit memanggul keril. Begitu mulai saja harus mendaki jalur vertikal lurus ke atas, gak pake miring-miring ,lurus ke atas pasti. Kita melewati camp di antara tebing-tebing batu, High camp namanya ada shelter di sini. Kami melanjutkan mendaki terus, tebing-tebing batu dan menurun lagi melewati hutan-hutan lumut serasa berada di negeri dongeng. Lalu mendaki lagi menanjak menuju salah satu puncak Binaiya yaitu puncak Bintang dan turun lagi…ini maksudnya apa yah?

Menerobos sedikit hutan menjelang malam tibalah kita di shelter Isilali, di sini kita beristirahat tidak membuka tenda,  shelter ini cukup, di sini kita berbagi dengan tim dari grup lain dengan guide Bapak Ige namanya, dan beliau cukup terpandang di Binaiya ini. Grup tim kami juga harus meninggalkan salah satu tim kami yang terdiri dari 4 anggota di High camp, karena mereka butuh lebih lama istirahat untuk memulihkan kondisi.

Tanimbar

Bung porter kami ini setrong dan cepat, nama sebenarnya saya tidak tahu. jadi terdapat kebiasaan untuk memanggil dengan  nama asal daerah dan tanimbar adalah nama desa di pulau-pulau terluar di kepulauan Maluku ini. Saya mempersembahkan finisher tshirt Bali Marathon saya buat beliau, karena saya rasa bung satu ini lebih berhak memakainya.

Day 5

Nasapeha – Waifuku

Setelah memulihkan kondisi dengan istirahat seharian, kami bersiap melanjutkan perjalanan kami dan ini belum sampai puncak juga. Tapi perjalanannya tidak terlalu berat, dan tidak begitu lama. Melewati hutan-hutan yang banyak tanaman endemik kantong semar, hutan lumut. Saya merasa unik di antara hijau nya himpitan hutan ini.  Perjalanan menuju camp selanjutnya saya tidak bisa ceritain deh, untuk memastikan apa yang terbaik untuk di ceritakan.. datang dan nikmatilah. Pukul 15.30 WIT , kami sampai di camp Nasapeha, terdapat danau di sini, dan menjadi habitat kijang sepertinya. Buka bekal untuk istirahat sejenak, tidak ada shelter di sini tapi luas dan tebuka untuk mendirikan banyak tenda. Ketika saya perhatikan, ternyata kita berada di lembah, salah satu lembah terbaik di pegunungan binaiya ini. Ada beri hutan yang besar, tapi rasanya masam tapi takjub, tapi makan, tapi kecut.

gunung binaiya

Yap kami melanjutkan perjalanan mendaki sekitar 2-3 jam menuju ke atas lagi. Melewati batu-batu terjal dan bukit-bukit kars . Dan whooooaaaa…. taman jurasic park! Hamparan batu dan sabana pakis tinggi-tinggi seperti setting taman jurasic park, semoga gak nemu T-rex ,  karena kami sempat menemukan tengkorak kijang disini, tapi sepertinya T-rex gak makan kijang , kayanya gak ada kijang di film jurasic park…fiuuh aman.

gunung binaiya

Waifuku

Ini adalah basecamp berupa hamparan padang di antara bebatuan tinggi dan tebing juga rupanya. Kami mendirikan tenda, posisi nya sudah yang paling tinggi disini sebagai tempat camp. Angin kencang dan udara dingin membuat kami bergegas mendirikan tenda, masuk dan menghangatkan diri dan hujan.

gunung binaiya

Day 6

Summit selebrasion – Ayemoto

Pagi nya garis-garis kabut menutup sekeliling kami. Dingin gak menyurutkan saya untuk tetap keluar menyaksikan apa yang terjadi semalaman dan ternyata banyak yang sudah bangun juga rupanya. berjalan tanpa alas kaki di udara dingin rumput yang kasar, udara dingin menuju puncak yang hanya 5 menit dari tempat camp membuat saya bangga akan diri saya sendiri.  Ternyata saya sudah di puncak kepulauan Ambon, saya mengunjungi tanah raja-raja, saya merasakan semuanya istimewa di sini, dan bayangan itu hilang ketika saya harus memikirkan perjalanan turun. Jadi terngiang salah satu cibiran orang “ngapain nanjak gunung kalo harus turun lagi” (dikira property bapak moyang gua kali ini gunung, gak turun-turun di gunung terus).

gunung binaiya

Perjalanan turun yang panjang, kami akhirnya berjumpa tim kami yang tertinggal di nasapeha menuju summit. Dan benar-benar menguras tenaga, di sertai hujan deras dan pertemuan-pertemuan istimewa dengan teman -teman pendaki yang hendak mendaki di saat kami hendak turun. Bertemu sungai lagi, bertemu bukit batu lagi, bertemu kantong semar lagi dan ketika di camp ayemoto saya kehilangan baju dan celana kesayangan saya… yasudahlah.

Perjalanan dari summit menuju Ayemoto di mulai pukul 09.00 WIT tiba pukul 22.00 WIT,     bayangkan..bayangkan keren yah kita!

Day 7

Piliana

Perjalan pulang menuju Piliana, kami menuruni lagi jalur-jalur yang mengingatkan perjuangan ketika mendaki di hari pertama. Menyusuri sungai yang mulai deras, karena di guyur hujan kemarin dan ternyata air sungai ini seger nya mengalahkan yang ada manis-manisnya itu.

Burung-burung kakatua putih bondol orens, parkit dan burung-burung lain mengantar perjalanan turun kami menuju turun. Kupu-kupu cantik dan glam beterbangan sepanjang perjalanan, seakan mau bilang “cendol gan udah mampir gan!”

Pukul 14.00 WIT kami tiba di desa Piliana, bapak raja menyambut dan menyuguhkan kami teh hangat dan roti. Kami membersihkan diri, makan siang dapat dari keluarga bapak raja lalu pamitan pulang, kebangetan dah kita. Sempat juga mengunjungi mata air jodoh, yang airnya jernih sekali dan arus nya deras..yah namanya jodoh gak kemana deh, mungkin maksudnya begitu, mengapa dinamakan air mata jodoh yah.

Malam ini malam tahun baru 2017, perjalanan serasa dramatis dan melow..terbersit perjuangan kami mendaki  dan kami serasa lebih dewasa sehari lagi pulang dari mendaki Binaiya ini… gaes menjadi dewasa itu pilihan loh!

Malam nya kami makan besar di rumah Alief, dan menyaksikan kemeriahan yang sederhana di Ambon, kembang api, soda-soda, kue dan semangat terbarukan. Happy new years 2017

Day 8

masih di pulau Seram

Pagi ini kami harus menyebrang kembali ke Ambon dan sore hari penerbangan ke Jakarta,       tapi saya menyempatkan diri untuk berkeliling ke pinggiran pantai ada genk lumba-lumba pulang malam tahun baruan menyapa pagi kami.

Binaiya saya “SEMPURNA”

shelter expeditions

Terimakasih Shelter : Alief, Odang, avesuavesuozaz, Falevy, Tanimbar

Author : Petrus ROhidi

Leave a Comment here